
BULAN RAMADHAN AKAN TIBA, WARGA MUSLIM LANAL DENPASAR SAMBUT DENGAN TRADISI MEGENGAN.
Apa Itu Megengan? Tradisi Menyambut Bulan Ramadan dan Hukumnya dalam Islam
Denpasar, 31 Maret 2022.
DENPASAR(Insancendikiamadanibali.com) – Sebelum memasuki Bulan Ramadhan, biasanya sebagian masyarakat Indonesia terutama masyarakat Jawa, menyambutnya dengan perayaan Megengan atau juga dikenal dengan sebutan Ruwahan.
Apa itu Megengan? Dikutip dari buku PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI STRATEGI TRANSFORMASI BUDAYA, Megengan merupakan tradisi memberikan berkat atau makanan kepada tetangga, salah satu makanan yang ada di dalamnya yaitu kue apem.
Disebutkan, tradisi ini bertujuan untuk mensucikan diri agar mendapat ampunan di Bulan Ramadan. Lantas bagaimana hukum Megengan dalam Islam?
Menurut Ustadz Ramiyanto saat memimpin acara Megengan di Masjid Sabilul Hidayah Pangkalan TNI AL Denpasar menjelaskan Megengan berasal dari kata Megeng yang artinya menahan.
“Megengan dari bahasa menahan, pengingat bahwa akan memasuki bulan Ramadhan,” katanya, saat dihubungi Insancendikiamadanibali.com.

Tradisi perayaan Megengan di Nusantara menurut Abah Ram panggilan akrab Ustadz Ramiyanto, ada bermacam-macam, mulai ziarah kubur hingga sedekah makanan.
“Ziarah, sangat dianjurkan (Sunnah) begitu juga shodaqah. Shodaqoh makanan yang biasanya ada kue apem,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut Abah Ram menjelaskan kue apem identik dengan simbol meminta ampunan.
Hukum Megengan dalam Islam
Soal hukumnya dalam Islam, Abah Ram menjelaskan bahwa Megengan membagikan makanan ke tetangga hanya sebuah bungkus saja, sementara praktek yang dilakukan merupakan bentuk sedekah. “Megengan itu nama atau bungkusannya. Karena isinya baik, maka megengan baik. Jadi yang dihukumi shodaqohnya, dan shodaqah bagian dari aktivitas megengan,” jelas Abah Ram.
Adapun dalil sedekah di antaranya adalah : Dalam Alquran, Allah SWT berfirman:
Yang Artinya : “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pun pernah bersabda tentang penyesalan bagi orang yang lalai bersedekah.
Telah menceritakan kepada kami Abu Hurairah radliallahu anhu berkata,: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahualaihiwasallam dan berkata,: “Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?”. Beliau menjawab: “Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu kamu berkata, si fulan begini (punya ini) dan si fulan begini. Padahal harta itu milik si fulan”. (HR. Bukhari).

Kegiatan yang berlasung khidmat di Masjid Sabilul Hidayah Pangkalan TNI AL Denpasar tersebut dihadiri oleh Warga Muslim Pangkalan TNI AL Denpasar dan Warga Muslim sekitar Lanal Denpasar dengan tetap menerapkan protocol Kesehatan. (gus arie)