KAJIAN MENYAMBUT RAMADHAN YAYASAN INSAN CENDIKIA MADANI BALI BERSAMA USTADZ NUR ASYUR AS-SAFKANI

Kajian Menjelang Ramadhan bertajuk “Belaian Rindu dalam Pelukan Ramadhan” oleh Ustadz Nur Asyur di TPQ Insan Cendikia. (Foto doc.YICMB).

Denpasar 27 Maret 2022

DENPASAR, (Insancendikiamadanibali.com) – Akhir-akhir ini begitu banyak fenomena sosial yang cukup membuat kita mengelus dada mulai dari seorang ibu yang membunuh ketiga anaknya, istri membunuh suaminya, anak membunuh orang tua, kasus kehamilan remaja diluar nikah, aksi pornografi yang melibatkan anak-anak, kasus perselingkuhan hingga aborsi.

Kasus-kasus fenomena sosial ini merupakan dampak dari disfungsi peran keluarga. Seharusnya apabila peran keluarga dalam membangun akhlak dilakukan secara maksimal maka fenomena-fenomena sosial yang disebutkan diatas tidak akan terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh Ustadz Nur Asyur As-Safkani dalam Kajian menyambut Ramadhan tahun 2022 bertajuk “Belaian Rindu dalam Pelukan Ramadhan” yang diselenggarakan oleh Yayasan Insan Cendikia Madani Bali (YICMB) di Aula TPQ Insan Cendikia Denpasar Jalan Ceningansari IV A Gg. Melati No. 2 Denpasar, Minggu (27/3/2022).

Dalam kajiannya Ustadz Nur Asyur, menyampaikan bahwa sejatinya dalam keluarga yang ideal memiliki empat fungsi yang harus ada meliputi empat fungsi diantaranya fungsi fisiologis, fungsi psikologis, fungsi sosial, dan fungsi dakwah.

“Fungsi fisiologis dalam keluarga artinya keluarga bisa memberikan makan, minum, rumah dan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Fungsi psikologis artinya dalam sebuah keluarga dapat memberikan perlindungan rasa aman, keterbukaan, rasa kasih sayang antar satu sama lain. Sedangkan fungsi sosial artinya keluarga memiliki peran untuk peduli terhadap masyarakat disekitarnya. Terakhir fungsi dakwah artinya keluarga memiliki peran untuk saling memberikan nasehat dalam lingkup keluarganya maupun pada tetanga-tetangganya” ungkapnya

Ustadz Nur Asyur dalam kajian yang diikuti oleh para jamaah Insan Cendikia Madani Bali tersebut memberikan kiat-kiat menghadapi era “zaman now” dalam memaksimalkan fungsi dan peran keluarga. Allah SWT berfirman aku ciptakan kalian berpasang pasangan, kenapa kita mesti berpasang pasangan karena Allah tidak pernah menciptakan kita sempurna, agar kita saling menyempurnakan karena itu maka jangan tuntut dia sempurna tapi terimalah dia dengan sempurna, karena ayat ini memerintahkan pada kita, mengakui bagaimana kita sebagai manusia memang tidak ada yang sempurna.

Ketika kita merasa tidak sempurna maka kita tidak akan menuntut orang lain untuk sempurna karena kita tak akan mampu menjadi orang yang sempurna, dan kita akan saling beriktiar untuk saling menyempurnakan. Kunci pernikahan itu pada hakekatnya adalah sinergi, sinergi untuk saling melengkapi dan sinergi untuk saling mewujudkan diri sebagai hamba Allah yang terbaik.

Dan Allah SWT katakan dalam hadist yang disampaikan oleh Nabi yang artinya Semoga Allah memberkahimu disaat bahagiamu dengan syukurmu, semoga Allah memberkahimu dengan sabarmu disaat susahmu, dan semoga Allah menyatukan engkau kembali dijannahnya.

Keberkahan itu adalah ketika kita mampu bersyukur atas kebaikannya dan bersabar atas kekurangannya. Jangan mengatakan mencintai seseorang kalau menuntut baiknya tapi tidak mampu bersabar atas buruknya karena cinta itu adalah bersyukur atas baiknya dan bersabar atas buruknya, itulah cinta.

Cinta itu harus bersabar sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Kahfi Ayat 28, yang artinya “Bahwa ternyata mencintai itu ditandai dengan kesabaran kita menerima kekurangan yang kita cintai”. Sebagai mana pula dalam firman Allah dalam Surah An Nissa Ayat 19, Allah SWT berfirman yang artinya “Jika engkau temukan cacat cela dalam pasanganmu maka yakinlah dibalik celanya itu manis lautan kebaikannya”.

Orang yang kecewa hanyalah orang yang focus pada kekurangan orang lain dan tidak focus pada kekurangan dirinya. Orang yang kecewa adalah orang yang berbangga dengan kebaikan dirinya tapi tidak pernah mensyukuri kebaikan orang lain.

Dan didalam kajian tersebut Ustadz Nur Assyur dapat menyimpulkan bahwa kesolidan kita dirumah akan menjadi kunci produktifitas kita diluar rumah. Kegagalan kita diluar rumah diawali dengan kegagalan kita didalam rumah, jadi semua kesuksesan hidup itu akan ditandai dengan kosolidan kita didalam rumah. Solidnya kita didalam rumah akan mempengaruhi kesolidan dan kesusesan kita diluar rumah, gagalnya kita diluar rumah diawali dengan kegagalan didalam rumah.

Diakhir kajian Ustadz nur Assyur juga menyampaikan dan mendoakan kepada Yayasan Insan Cendikia Madani Bali yang saat ini masih berjuang keras dalam rangka penggalian dana pembelian tanah Waqaf untuk Gedung TPQ Insan Cendikia supaya cepat tercapai dan juga menghimbau kepada para jamaah untuk ikut membantu menyelesaikan pembelian tanah tersebut.

Turut hadir dalam acara dalam acara kajian menyambut Bulan Suci Ramadhan diantaranya Ketua Umum Yayasan Insan Cendikia Madani Bali Bapak H. Wasit Pamungkas, Dewan Pembina dan Pengawas Yayasan yaitu H. Abd. Kadir Makaramah, S.H., M.H., Drs. H. Hud M. Alqodri, S.H., M.A., H.M. Khotib, S.Ag. serta segenap Pengurus Yayasan Insan Cendikia Madani Bali dan Ibu-ibu Jamaah Insan Cendikia.

Kegiatan acara kajian yang diakhiri dengan doa dan ramah tamah berlangsung tertib dan lancar dengan tetap mengedepankan protocol Kesehatan. (Arie)